Proyek Transportasi Bandung Raya Bus Rapid Transit (BRT) Apakah Akan Mengatasi Kemacetan Atau Sebaliknya



BANDUNG, infobdg.com – Setelah puluhan tahun bergantung pada kendaraan pribadi dan angkot, Bandung Raya akhirnya memasuki babak baru transportasi publik. Pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dan pemerintah daerah di kawasan Bandung Raya tengah membangun sistem Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya yang nantinya akan menjadi jaringan transportasi massal terbesar yang pernah dimiliki kawasan Cekungan Bandung.

Proyek ini tidak hanya menghadirkan bus baru, tetapi juga mencakup pembangunan jalur khusus, halte modern, integrasi antarkawasan, hingga transformasi sistem angkutan umum yang selama ini dinilai belum mampu menjadi pilihan utama warga.

Sebagian warga sebenarnya sudah mengenal layanan bus BTS (Buy The Service) yang sebelumnya beroperasi dengan nama Trans Metro Pasundan.

Mulai 1 Januari 2025, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melakukan rebranding layanan tersebut menjadi Metro Jabar Trans (MJT) sebagai bagian dari upaya membangun sistem transportasi publik yang lebih terintegrasi di Bandung Raya. Pengelolaan operasional yang sebelumnya mendapat dukungan pemerintah pusat kini menjadi tanggung jawab Pemprov Jawa Barat.

Saat peluncuran, Metro Jabar Trans melayani enam koridor utama yang menghubungkan Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, hingga Jatinangor.

Kemacetan di Bandung Raya terus meningkat setiap tahun. Jumlah kendaraan tumbuh jauh lebih cepat dibanding penambahan kapasitas jalan.

Bandung juga menghadapi kondisi unik berupa kawasan metropolitan yang melibatkan lima wilayah administratif sekaligus, yaitu:

  • Kota Bandung
  • Kota Cimahi
  • Kabupaten Bandung
  • Kabupaten Bandung Barat
  • Kabupaten Sumedang

Mobilitas harian warga antarwilayah sangat tinggi, baik untuk bekerja, kuliah, sekolah maupun aktivitas ekonomi lainnya. Karena itulah pemerintah menilai transportasi massal menjadi kebutuhan mendesak.

Berdasarkan kajian terbaru yang disusun pemerintah, sistem BRT Bandung Raya akan memiliki 18 koridor utama yang menghubungkan pusat-pusat aktivitas di Bandung Raya. Operasional penuh ditargetkan bertahap hingga 2027.

Berikut rute yang direncanakan:

  1. Cibiru – Kalapa
  2. Lembang – Taman Tegalega
  3. Leuwipanjang – Dipatiukur – Dago
  4. Elang – Riau
  5. Ciroyom – Pajajaran – Antapani
  6. Dago – Leuwipanjang – Cibaduyut
  7. Padalarang – Alun-alun Bandung
  8. Cicaheum – Cimahi
  9. Ledeng – Antapani
  10. Cicaheum – Kebon Kalapa
  11. Tegalluar – Stasiun Hall
  12. Soreang – Tegalega
  13. Jatinangor – Cibeureum
  14. Majalaya – Baleendah – Leuwipanjang
  15. Banjaran – Baleendah – Bandung Electronic Center (BEC)
  16. Sarijadi – Antapani
  17. Cicaheum – Sarijadi
  18. Jatinangor – Dipatiukur via Tol Cisumdawu

Agar sistem ini berjalan efektif, pemerintah menyiapkan 256 titik halte di kawasan Bandung Raya.

Dari jumlah tersebut, sekitar 232 halte berada di Kota Bandung, sementara sisanya tersebar di wilayah sekitar yang menjadi bagian jaringan BRT. Halte-halte ini dirancang untuk mendukung sistem naik turun penumpang yang lebih cepat dibanding bus kota konvensional.

Salah satu pembeda utama BRT dengan bus biasa adalah keberadaan jalur khusus (dedicated lane).

Dinas Perhubungan Kota Bandung menyebut jalur khusus yang sedang disiapkan memiliki panjang sekitar 21 kilometer. Sejumlah ruas jalan utama yang masuk dalam perencanaan antara lain:

  • Asia Afrika
  • Otto Iskandardinata (Otista)
  • Sudirman
  • Dewi Sartika
  • Koridor utama pusat kota lainnya

Dengan jalur khusus tersebut, bus diharapkan tidak terjebak kemacetan seperti kendaraan umum biasa sehingga waktu tempuh lebih konsisten.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama