Bandung, bejaswnews.com : Menunggu berjam-jam demi bus ke kampung halaman kini resmi menjadi bagian dari sejarah. Gerbang timur Kota Kembang yang telah mengantarkan jutaan langkah dan menyimpan ribuan cerita pulang.
Terminal Cicaheum mulai memasuki babak baru yang terasa getir bagi sebagian warga. Terminal yang selama puluhan tahun menjadi salah satu pintu perjalanan warga Bandung itu mulai ditinggalkan bus AKAP dan AKDP setelah operasionalnya dialihkan ke Terminal Leuwipanjang.
Pengalihan layanan bus antarkota antarprovinsi atau AKAP dan antarkota dalam provinsi atau AKDP dari Cicaheum ke Leuwipanjang dilakukan mulai pekan ini. Laporan IDN Times Jabar menyebut, puluhan bus yang selama ini beroperasi di Terminal Cicaheum mulai dipindahkan ke Terminal Leuwipanjang karena kawasan Cicaheum disiapkan menjadi depo Bus Rapid Transit atau BRT Bandung Raya.TERMINAL CICAHEUM RESMI MENJADI DEPO BRT BANDUNG RAYA
Pemindahan operasional bus dari Cicaheum ke Leuwipanjang merupakan bagian dari rencana besar pengembangan transportasi massal di kawasan Bandung Raya. Terminal Cicaheum diproyeksikan menjadi salah satu depo BRT Bandung Raya, sehingga layanan bus jarak jauh dan antardaerah dialihkan ke Terminal Tipe A Leuwipanjang.
Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat, Dhani Gumelar, sebelumnya menjelaskan bahwa pengalihan bus AKAP dan AKDP dari Terminal Cicaheum ke Terminal Leuwipanjang sudah melalui kajian, sosialisasi, dan uji coba. Ia juga menyebut Leuwipanjang masih mampu menampung tambahan armada dan penumpang dari Cicaheum, termasuk penambahan 36 trayek.
Dalam skema baru itu, Cicaheum tidak sepenuhnya hilang dari peta transportasi Bandung. Terminal tersebut diarahkan menjalankan fungsi berbeda, yakni mendukung sistem angkutan massal berbasis jalan. Dengan kata lain, wajah lama Cicaheum sebagai terminal bus jarak jauh mulai ditutup, sementara wajah barunya sebagai simpul BRT Bandung Raya mulai disiapkan.
Di atas kertas, kebijakan ini tampak sebagai bagian dari modernisasi transportasi publik. Pemerintah ingin membangun sistem angkutan massal yang lebih terintegrasi di Cekungan Bandung. Namun di lapangan, perubahan ini tetap menyisakan pekerjaan rumah: sosialisasi, akses penumpang, nasib pedagang, hingga adaptasi warga Bandung timur yang selama ini lebih dekat ke Cicaheum.
PENUMPANG DAN PEDAGANG MASIH MENUNGGU KEJELASAN
Dampak paling terasa dari perubahan ini berada di lapisan bawah. Penumpang yang biasa berangkat dari Cicaheum harus mengubah rute kebiasaan menuju Leuwipanjang. Bagi warga Bandung timur dan sekitarnya, perpindahan itu bisa berarti tambahan waktu, ongkos, dan kerepotan baru.
foto by kompas.comBagi pemerintah, pemindahan ini mungkin bagian dari penataan. Bagi penumpang dan pedagang, ini bisa terasa seperti perpisahan yang datang terlalu cepat. Terminal boleh berubah fungsi, tetapi kenangan orang-orang yang pernah menunggu bus di Cicaheum jelas tidak bisa dipindahkan semudah memindahkan trayek
(By.Redaksi-bejaswnews.com)

