Bandung.bejaswnews.com : Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung berkolaborasi dengan Masyarakat Tionghoa Peduli menyalurkan bantuan sosial kepada lima lembaga kesejahteraan sosial dan pondok pesantren di Kota Bandung sebagai wujud kepedulian lintas komunitas.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi berbagai persoalan sosial di Kota Bandung.
Menurutnya, bantuan sosial memiliki peran penting, tetapi harus dibarengi dengan upaya jangka panjang untuk mengurangi ketimpangan.
"Kemiskinan dan ketimpangan itu bukan persoalan nasib atau takdir, melainkan persoalan yang bersifat struktural. Karena itu kita harus membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk bekerja, berusaha, dan memperoleh masa depan yang lebih baik, dimulai dari pendidikan," ujar Farhan di Pendopo, Minggu 26 Juli 2026.
Farhan menjelaskan, salah satu indikator yang menjadi perhatian Pemkot Bandung adalah Gini Ratio yang masih berada di angka 0,42, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 0,36.
Karena itu, Pemkot Bandung menargetkan penurunan angka ketimpangan secara bertahap hingga mencapai rata-rata nasional pada 2029.
Menurutnya, pemerataan kesejahteraan tidak hanya bergantung pada bantuan sosial, tetapi juga harus didukung pemerataan akses pendidikan, layanan kesehatan, administrasi kependudukan, hingga sanitasi yang layak.
Ia mengungkapkan, dari hasil kunjungannya ke berbagai kelurahan masih ditemukan anak-anak yang belum mengenyam pendidikan karena berbagai kendala.
Oleh sebab itu, Pemerintah Kota Bandung terus mendorong penguatan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sebagai alternatif pendidikan bagi anak-anak yang tidak dapat masuk ke jalur sekolah formal.
Selain itu, Pemkot Bandung juga terus memperkuat layanan kesehatan melalui Universal Health Coverage (UHC), mempercepat kepemilikan dokumen administrasi kependudukan bagi masyarakat, serta meningkatkan kualitas sanitasi lingkungan sebagai bagian dari upaya menekan ketimpangan.
Farhan mengapresiasi kepedulian Masyarakat Tionghoa Peduli yang secara konsisten berkontribusi dalam kegiatan sosial di Kota Bandung.
"Semangat kepedulian seperti inilah yang membuat saya yakin Bandung adalah kota yang kuat karena kolaborasi. Ketika masyarakat bergerak bersama pemerintah, manfaatnya akan dirasakan lebih luas oleh warga yang membutuhkan," katanya.
Sementara itu, Koordinator Bakti Sosial Masyarakat Tionghoa Peduli, Djoni Toat, mengatakan kegiatan tersebut merupakan wujud komitmen paguyuban Masyarakat Tionghoa Peduli dalam membantu masyarakat tanpa memandang latar belakang.
Ia menjelaskan, Masyarakat Tionghoa Peduli merupakan paguyuban yang menghimpun sejumlah yayasan sosial dengan tujuan memperluas kegiatan kemanusiaan di Kota Bandung.
Selain bakti sosial, komunitas tersebut juga telah menjalankan berbagai program sosial, termasuk penyaluran bantuan kain kafan bagi masyarakat yang membutuhkan selama sekitar 10 tahun.
"Kami berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut dan semakin mempererat kolaborasi dengan Pemerintah Kota Bandung sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat," ujar Djoni.
Pada kesempatan tersebut, bantuan disalurkan secara simbolis kepada lima penerima manfaat, yakni Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Nugraha, LKSA PSAA Al Hilal, LKSA Arraf Arrifqi, Yayasan Noor Rakhmah Al Latif, dan Pondok Pesantren Cijawura Margasari.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan berbagai elemen masyarakat, Pemkot Bandung berharap upaya mengurangi ketimpangan sosial dapat berjalan lebih efektif sekaligus memperkuat semangat gotong royong dalam mewujudkan Bandung yang lebih adil dan sejahtera. (ray)**
Editor:Dani