Kota Bandung.bejaswnews.com : Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung terus mematangkan langkah antisipasi menghadapi potensi kemarau panjang yang diperkirakan terjadi tahun ini.
Sejumlah upaya disiapkan, mulai dari pemetaan wilayah rawan kekeringan, penyediaan air bersih, hingga rencana pembangunan sumber air baru.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Bandung, Didi Ruswandi mengatakan, salah satu upaya yang tengah dikaji adalah pengeboran sumur di sejumlah lokasi yang dinilai berpotensi menjadi sumber air bagi masyarakat saat musim kemarau.
"Kami sedang melakukan survei lokasi yang memungkinkan untuk titik pengeboran. Informasinya, jika memungkinkan, TNI juga siap membantu," kata Didi Ruswandi di Balai Kota Bandung, Senin (8/6/2026).
Selain itu, BPBD bersama organisasi pecinta alam Wanadri juga menyiapkan program penanaman pohon sebagai upaya memperkuat daya resap tanah dan menjaga keberlanjutan cadangan air tanah.
Program penghijauan tersebut akan difokuskan di kawasan Bandung Timur dan Bandung Utara. Berdasarkan hasil pendataan bersama Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP), terdapat lebih dari 100 hektare lahan yang berpotensi dijadikan lokasi penanaman.
"Banyak lahan yang sudah didata bersama DPKP, luasnya lebih dari 100 hektare. Saat ini sedang disurvei satu per satu. Mudah-mudahan mulai Juli kami sudah bisa memulai penanaman,"katanya.
Tak hanya itu, BPBD juga telah memetakan 31 titik wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih selama musim kemarau. Saat ini, verifikasi lapangan masih dilakukan untuk memastikan kebutuhan riil masyarakat di setiap lokasi.
"Yang sudah kami lakukan adalah verifikasi lokasi-lokasi yang memiliki pengalaman rawan kebutuhan air bersih saat musim kemarau,"ucapnya.
Berdasarkan data sementara, titik rawan kekeringan tersebar di beberapa kelurahan. Kelurahan Maleber menjadi wilayah dengan jumlah titik terbanyak yakni 14 lokasi, disusul Kelurahan Ciroyom delapan titik, Kelurahan Cempaka tiga titik, dan Kelurahan Garuda satu titik.
BPBD memperkirakan kebutuhan air bersih di wilayah-wilayah tersebut mencapai sekitar 75.480 liter per hari. Apabila seluruh kebutuhan harus dipenuhi melalui distribusi truk tangki, biaya yang dibutuhkan diperkirakan mencapai Rp31 juta setiap hari.
"Sekarang masih kami verifikasi. Kebutuhan airnya sekitar 75.480 liter per hari. Jika harus disuplai menggunakan truk tangki, biayanya sangat besar, bisa mencapai sekitar Rp31 juta per hari," ujarnya.
Didi menambahkan, hasil verifikasi akan menjadi dasar dalam menentukan pola distribusi bantuan air bersih. Sebab, tidak semua warga mengalami kekurangan air untuk seluruh kebutuhan rumah tangga.
"Kami sedang mendata mana yang benar-benar membutuhkan suplai penuh dan mana yang hanya membutuhkan untuk kebutuhan tertentu, seperti air minum,"pungkasnya.