Bandung.bejaswnews.com : Meninggalkan stigma sekolah favorit sangat penting untuk menciptakan keadilan sosial, karena pendidikan berkualitas merupakan hak segala bangsa dan tidak boleh dimonopoli oleh institusi tertentu. Stigma ini sering kali hanya mengkotak-kotakkan siswa berdasarkan kemampuan akademis awal, bukan pada proses belajarnya.(Iman Lestariyono - Fraksi PKS Kota Bandung).
Seluruh TK. SD. SMP baik negeri dan swasta dibawah kewenangan Dinas Pendidikan Kota Bandung, mendapatkan perlakuan, fasilitas, serta perhatian yang setara. Karena itu, ia berharap orang tua dapat menerima hasil SPMB dengan lapang dada meskipun anaknya tidak lolos di sekolah yang selama ini dianggap favorit.
“Harapan kita wali murid juga legowo kalau memang tidak terserap di sekolah yang dianggap bagus itu. Sebenarnya posisi kami, sekolah itu sama saja dan kita berikan perlakuan yang sama,” tegas Iman.
Menurut Kang Iman, stigma sekolah favorit selama ini lebih dipengaruhi oleh kualitas input atau kemampuan akademik siswa yang memang sudah unggul sejak awal, bukan karena adanya perbedaan kualitas guru maupun layanan pendidikan. Berikut adalah beberapa alasan utama mengapa kita perlu mengakhiri dikotomi ini:
- Pemerataan Kualitas Pendidikan: Dikotomi sekolah "favorit" dan "nonfavorit" menghambat pemerataan mutu. Pemerintah dan praktisi pendidikan terus mendorong agar semua sekolah memiliki standar fasilitas, kurikulum, dan tenaga pengajar yang merata sehingga tidak ada ketimpangan.
- Menghilangkan Praktik Kurang Etis: Keinginan untuk masuk ke sekolah tertentu sering memicu praktik kecurangan, seperti manipulasi Kartu Keluarga (KK) saat pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).
- Fokus pada Potensi Anak: Sekolah unggulan biasanya terbentuk karena kualitas input (nilai awal siswa) yang sudah tinggi. Pendidikan yang sesungguhnya harus dinilai dari sejauh mana sekolah berhasil meningkatkan kemampuan siswa dari titik awal mereka (nilai value added).
